Selasa, 24 Maret 2015

Bapak Tua Penjual Amplop


Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Sumber:http://rinaldimunir.wordpress.com/2011/11/19/bapak-tua-penjual-amplop-itu/

viahttp://gizanherbal.wordpress.com/2011/11/23/cerita-bapak-tua/)

Senin, 23 Maret 2015

SEBUAH KOIN PENYOK

Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dgn rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. “Uh, hanya sebuah koin kuno yg sudah penyok.” Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank.

“Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dollar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 200 dollar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju dan mengembalikan gerobaknya.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Tiba-tiba seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yg terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yg diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh.. bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Please like and share!


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram”

Sumber: RENUNGAN HARIAN

Jumat, 20 Maret 2015

SAAT SAAT BERLINDUNG KEPADA ALLAH SWT DARI GANGGUAN JIN ATAU SETAN


Assallamualaikum warromatullahi wabarrokathu
Jin atau setan senantiasa menganggu dan menyerang manusia khususnya orang mukmin dari berbagai sisi dan dalam berbagai keadaan.untuk itu agar usaha mereka tidak berhasil dan dapat di patahkan maka seorang mukmin harus mempunyai senjata khususnya dalam menghadapi mereka.

Mengenai senjata ini Allah swt telah berfirman :
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari pada orang orang yang bodoh dan jika kamu di timpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah.sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui
(QS al - A-raf 199 - 200)

Adapun keadaan atau saat saat yang memungkinkan adanya gangguan atau godaan jin atau setan adalah sbb.

1 KETIKA MASUK WC
Rasullullah saw menganjurkan agar setiap kali masuk wc terlebih dahulu membaca doa sebagai permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan setan laki laki dan setan perempuan hal ini sebagai mana tertuang dalam hadits beeikut :

Dari Zaid bin Arqam. Rasullullah bersabda :
Sesungguhnya toilet toilet itu di huni oleh jin .oleh karena itu apabila seseorang siantara kalian masuk wc .maka katakanlah.ALLAHUMMA INNI AUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHABAITS.artinya Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari gangguan jin laki laki dan jin perempuan
(HR Abu Daud Nasa-i Ibnu majah dan Ahmad)

2 KETIKA MARAH
Ketika seseorang marah maka setan akan dengan mudah masuk dan menggodanya oleh karena itu Rasullullah saw mengajarkan bahwa.ketika seseorang marah hendaklah ia membaca AUDZUBILLAHI MINASSYAITANNIRROJIM hal ini sebagai dikatakan dalam sebuah hadits berikut ini.

Dari sulaiman bin Shurad berkata
Ada dua orang saling memaki dihadapan Rasullullah saat itu kami sedang duduk disampingnya salah seorang dari kesuanya memaki temanya dengan sangat marah sehingga tanpak mukanya sangat merah.
Rasullullah saw kemudian bersabda :
Sesungguhnya saya mengetahui sebuah kalimat yang apa nila diucapkan maka marah kalian akan hilang ÀUDZUBILLAHI MINASSYAITANNIRROJIM yang artinya aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk (HR Bukhari & Muslim)

3 KETIKA BERHUBUNGAN BADAN (SUAMI ISTRI)
Rasullullah saw juga menganjurkan agar sebelum melakukan hunungan badan terlebih dahulu berdoa dan berlindung kepada Allah swt dari godaan setan.

Dalam sebuah hadits dikatakan Rasullullah saw bersabda :
Apabila salah seorang dari kalian hendak menggauli istrinya kemudian sebelum menggauli.ia membaca doa .BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNASS SYAITHAN WA JANNIBIS SYAITHANA MA RAZAGTANA. yang artinya dengan menyebut nama Allah .ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan dan godaan setan serta jauhkanlah setan itu dari apa yang akan engkau anugerahkan kepada kami (anak) maka apabila dari hubungan teraebut ditakdirkan membuahkan seorang anak maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya
(HR Muthfaq ' alaih)

4 . KETIKA TURUN DARI LEMBAH ATAU TURUN DARI RUMAH
Rasullullah saw mengajak bahwa apabila seseorang keluar dari rumah atau melewati lembah , tempat angker hendaklah membaca doa.
Sebagaimana tercantum dalam Hadits berikut.
Rasullullah saw bersabda : Kalau saja seseorang diantara kalian keluar rumah lalu berdoa : AUDZU BIKALIMATILLAHIT TAMMATTI MIN SYARRI MA KHALAQ yang artinya Aku berlindung kepada Allah dengan perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya. Maka ia tidak akan diganggu sedikitpun sejak ia berada dirumah itu sampai ia meninggalkannya
(HR Ibnu Majah dengan Sannad yang shahih)

5 . KETIKA MENDENGAR RINGKIKAN KELEDAI
Dalam hal ini Rasullullah saw bersabda
Apabila kalian mendengar ayam jantan berkukuruyuk (kongkorongok) maka mintalah kurunia dari Allah karena sesungguhnya ayam itu melihat malaikat.dan apabila kalian mendengarkan ringkikan kedelai berlindunglah kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan karena keledai itu telah melihat setan
(HR Bukhari & Muslim)

6 KETIKA HENDAK MEMBACA AL QURAN
Allah berfirman :
Apabila kamu membaca al-Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah swt dari godaan setan yang terkutuk.sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang orang yang beriman dan bertawakhal kepada tuhanya
(QS an - Nam 98 99).

Semoga bermamfaat bagi kita semua

Wassallamm


sumber : Google

Selasa, 17 Maret 2015

Memahami Palestina (Bagian 2)

“We know too well that our freedom is incomplete without the freedom of the Palestinians.” - Nelson Mandela

3. The third phase of Zionism (1948-1967)

Pada 15 Mei 1948, sehari setelah Ben Gurion mendeklarasikan kemerdekaan Israel, 14.000 pasukan dari berbagai negara Arab merangsek ke Palestina. Namun, mereka bukan tandingan bagi pasukan Israel yang akhirnya memenangkan perang tersebut hingga menguasasi 78% wilayah Palestina. Pasca perang, Israel menguasai seluruh wilayah Palestina kecuali Tepi Barat dan Gaza. Dalam perang tersebut pula warga Palestina yang meninggal mencapai 13.000 orang. Setelah itu, warga Palestina mulai mengungsi dari kota dan desa yang dihancurkan Israel. Jumlah pengungsi saat itu mencapai 700.000-800.000 pengungsi (Prior 1999: 25). Sedikitnya perhatian internasional atas penghancuran desa-desa Palestina itu mengukuhkan bahwa Palestina merupakan daerah yang kosong sebelum Bangsa Yahudi masuk ke sana.



David-Ben Gurion (Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan) berbicara dalam deklarasi pendirian Negara Israel 14 Mei 1948. (Sumber: AP)


Pasca perang 1948, ratusan desa Palestina dihancurkan dengan cara dibakar atau dibuldoser. Desa-desa yang selamat dari penghancuran, 80% lahan dan tanahnya disita oleh Israel. Namun, data mengenai desa-desa yang dihancurkan tersebut memang bervariasi karena sulitnya dokumentasi data di Palestina pada masa itu. Yang pasti, sekitar 414.000 warga Palestina yang mendiami 213 desa telah kehilangan tempat tinggal bahkan sebelum British Mandate berakhir pada 15 Mei 1948. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Morris tentang alasan exodus warga Palestina di 330 desa yang ia amati, 41 desa (12%) mengungsi karena diusir tentara Israel, 195 desa (59%) mengungsi akibat serangan tentara Israel dan 46 desa (14%) mengungsi akibat serangan warga Yahudi setelah desa-desa disekitarnya sudah dikosongkan. Total ada 282 desa (85%) yang mengungsi akibat aksi militer Israel (1999:27).



Warga Palestina mengungsi pada 4 November 1948 (Sumber: AP)




Boundaries defined in the UN partition plan of 1947:

Blue: Area assigned for a Jewish state;

Red and Green: Area assigned for an Arab state;

Purple and Grey: Corpus separatum of Jerusalem (neither Jewish nor Arab).

Armistice Demarcation Lines of 1949:

Blue, Red and Grey: Israel

Dalam peta di atas diperlihatkan, wilayah merah dan hijau adalah wilayah yang disepakati PBB untuk Palestina dalam UN Partition Plan 1947. Sedangkan wilayah biru adalah milik Israel. Wilayah ungu dan abu-abu adalah Yerusalem, yang bersifat netral dan bukan milik Palestina maupun Israel. Status bagi Yerusalem disebut “Corpus Separatum” di mana kota itu akan dikelola badan internasional karena Yerusalem memiliki nilai penting bagi tiga agama; Yahudi, Nasrani dan Islam. Pasca perang 1948, wilayah merah milik Palestina direbut Israel.

Berbeda dengan Morris, Walid Khalidi meneliti sekitar 418 desa Palestina yang dihancurkan Israel. Sekitar 293 desa (70%) dihancurkan wilayahnya secara keseluruhan dan 90 desa (22%) sebagian besar wilayahnya dihancurkan. Penghancuran dan depopulasi desa-desa Palestina telah menyebabkan 383.150 orang mengungsi ditambah 6.994 orang disekitar pedesaan, total 390.144 orang mengungsi di wilayah rural Palestina (W.Khalidi, ed. 1992: 581 dalam Prior 1999:27). Belum lagi jumlah Arab badui yang kehilangan tempat tinggalnya mencapai 70.000-100.000 orang. Fakta bahwa Israel melarang kembalinya pengungsi akibat perang 1967 juga memperkuat argumen bahwa inti dari ajaran Zionisme adalah mengganti penduduk asli Palestina dengan bangsa Yahudi. Sebelum 1948, Bangsa Yahudi hanya menguasai 7% dari wilayah Palestina. Pasca perang 1948, Bangsa Yahudi menguasai 78% tanah Palestina.



Pengungsi Yahudi dari Eropa di Kapal S.S. Awarea merapat di Pelabuhan Haifa 6 April 1948. (Sumber: Reuters)

4. The fourth phase of Zionism (1967-1993)

Pasca perang enam hari pada 5-11 Juni 1967, Israel berhasil menguasai Tepi Barat (termasuk Yerusalem Timur) dari Yordania, dataran tinggi Golan dari Suriah, Gaza serta semenanjung Sinai dari Mesir. Dalam sidang DK PBB pada 5 Juni 1967, Israel melalui Menlu nya, Abba Eban, menuduh Mesir memulai perang dengan membom desa dan kota milik Israel. Namun, pada 1972, fakta sebenarnya terungkap yaitu Israel melancarkan pre-emptive strike kepada Mesir karena ada indikasi agresi dari dunia Arab yang mereka klaim membahayakan eksistensi Israel. Jendral Mattityahu Peled mengakui bahwa Israel pada 1967 tidak mengalami ancaman apapun dari Mesir, bahkan Ezer Weizmann (mantan presiden Israel) yang saat itu memimpin serangan mengatakan bahwa tidak ada ancaman atas kehancuran Israel dan walaupun seandainya Mesir menyerang terlebih dahulu, mereka tetap akan kalah.



Territory held by Israel before and after the Six Day War. The Straits of Tiran are circled, between the Gulf of Aqaba to the north and the Red Sea to the south.

Perang 1967 ini kemudian dilihat sebagai suatu bentuk agresi oleh Israel bukan oleh Arab. Mantan Menlu Israel tahun 1972, Abba Eban, mengatakan bahwa pengakuan Jenderal Peled dan Weizmann merupakan penghinaan atas sikap moral Israel (lihat N.Finkelstein 1995:136, 219 dalam Prior 1999: 29). Namun, lebih dari sekedar agresi, Israel memiliki maksud lain dalam perang 1967. Pasca perang tersebut, Israel berhasil mengontrol seluruh wilayah Palestina sebelah barat Yordania. Hal ini memuluskan tujuan Israel untuk memenangkan wilayah Palestina lebih besar lagi sejak 1948. Pasca pengambilalihan Yerusalem timur oleh Israel, 1.000 warga Palestina dan 135 rumahnya dihancurkan oleh Israel. Selain itu, 4.000 warga Arab diusir dari wilayah kota Yerusalem yang didominasi Yahudi. 10.000 warga Arab juga diusir dari berbagai desa seperti Bayt Nuba, Imwas, dan Yalu. Knesset (parlemen Israel) juga memperluas wilayah Yerusalem timur dengan memasukkan desa-desa di sekitar Bethlehem di selatan dan Ramallah di utara menjadi wilayahnya. Pada tahun 1980, Knesset mendeklarasikan seluruh Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel.

Saat itu, Israel juga mengalami apa yang mereka sebut “masalah demografis”. Penduduk Israel saat itu 400.000 orang sedangkan penduduk Palestina di Tepi barat dan Gaza mencapai 1,3 juta orang. Israel khawatir dengan tingginya tingkat kelahiran warga Arab yang di masa depan dapat mengalahkan jumlah warga Yahudi di Israel sendiri. Bahkan, tiga minggu setelah perang 1967, sebuah survei opini publik Israel menunjukkan 28% Yahudi Israel setuju untuk mengusir warga Palestina yang tinggal di Israel dan 22% setuju untuk mengusir warga Palestina di wilayah yang dikuasai Israel pasca perang enam hari (Masalha 1997: 77–80 dalam Prior 1999: 30). Sejak saat itu pemerintah Israel terus membuat rencana untuk mengurangi dan mengusir warga Palestina dari wilayahnya. Haim Herzog (mantan Presiden Israel) yang pada 1967 menjabat sebagai gubernur militer di Yerusalem bekerjasama dengan Shlomo Lahat yang saat itu menjabat sebagai pengambil keputusan di Yerusalem untuk memindahkan 200,000 warga Palestina dari Tepi barat, termasuk 100.000 orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Jericho.

Warga tersebut diberikan dua pilihan, antara masuk ke negara-negara Arab lainnya atau dipindahkan ke negara-negara Amerika Latin. Ditambah lagi, Ariel Sharon, saat itu bersikeras ingin memusnahkan semua kamp pengungsi dan mengusir para pengungsi tersebut ke negara-negara Arab. William Wilson Harris membuat investigasi pada tahun 1980 bahwa pasca perang 1967, 400.000 warga Palestina diusir dari wilayah yang dikuasai Israel dalam rentan Juni-Desember termasuk 100,000 warga Suriah yang tinggal di dataran tinggi Golan. Di pihak Palestina sendiri, mereka tidak punya pilihan lain selain bertahan dalam pendudukan Israel. Pada dekade 70-an, perlawanan warga Palestina dipimpin oleh kelompok-kelompok sekuler. Namun, gerakan kaum sekuler ini kehilangan popularitas pasca invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982.

Kegagalan para pemimpin sekuler Palestina dan negara-negara Arab dalam menjamin nasib warga Palestina telah menguatkan opini bahwa hanya dengan gerakan berbasis Islam lah, Palestina dan Arab bisa menang (Ahmad 1994: 11 dalam Prior 1999:34). Ditambah lagi, revolusi Islam di Iran pada tahun 1979 ikut mengangkat popularitas kelompok-kelompok Islam di Palestina, terutama di kamp-kamp pengungsi di Gaza, walaupun popularitas kelompok nasionalis seperti PLO juga tetap tinggi. Pada 8 Desember 1987, sebuah kendaraan IDF Israel menabrak dan menewaskan empat orang Palestina serta melukai tujuh lainnya. Keesokan harinya, sekitar 4.000 warga Palestina memprotes kejadian tersebut dan para pemuda Palestina berunjuk rasa dengan melempar batu. Dalam waktu yang singkat setelah itu, seluruh warga Tepi barat dan Gaza berunjuk rasa melawan pendudukan Israel (1999: 34).

Intifada Pertama

Intifada (yang artinya menjatuhkan atau to shake off) mulai didengar masyarakat internasional, menunjukkan bahwa rakyat Palestina mulai melawan untuk mengakhiri pendudukan. Intifada pertama terjadi tahun 1987 setelah truk IDF Israel menabrak dan menewaskan empat warga Palestina. Peristiwa ini sebenarnya adalah puncak dari pendudukan militer Israel atas Tepi Barat dan Gaza selama dua puluh tahun terakhir. Protes pertama terjadi di kamp pengungsi Jabaliya di Gaza. Setelah itu, gerakan protes mulai membesar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Warga Palestina menolak membayar pajak, melempari tentara Israel dengan batu dan bom Molotov dan memboikot ekonomi Israel. Tentara Israel merespon dengan menembaki demonstran dengan peluru tajam serta mengimplementasikan strategi “might, power and beatings” dan “breaking Palestinian bones”. Intifada pertama berakhir setelah ditandatanganinya Perjanjian Oslo tahun 1993.



Seorang pemuda Palestina melempar batu ke arah tentara Israel pada 19 Desember 1987 di Kamp Pengungsi Bureij, Gaza. (Sumber: AP)

Gerakan intifada mendorong perkembangan yang luar biasa dari pihak oposisi atas pendudukan Israel. Lebih dari itu, pada 9 Desember 1987 (satu hari setelah peristiwa tewasnya empat warga Palestina), para pemimpin Ikhwanul Muslimin di Gaza termasuk Sheikh Ahmad Yassin, berkumpul untuk membangun suatu demonstrasi yang lebih luas. Akhirnya, pada 14 Desember 1987, kelompok tersebut menyebarkan sebuah selebaran berisi seruan perlawanan terhadap pendudukan Israel, yang mana adalah seruan pertama dari kelompok bernama Hamas (Harakat al-Muqawama al- Islamiya/ Gerakan Perlawanan Islam).



Remaja Palestina jatuh setelah dipukuli tentara Israel. Pemuda Palestina disebelahnya ditangkap setelah 50 tentara Israel menyerbu rumah sakit Shifa di Gaza pada 15 Desember 1987. (Sumber: AP)

Perkembangan Hamas sangat cepat. Hanya dalam satu tahun, Hamas telah mengeluarkan tiga puluh selebaran dengan gambar dan slogan relijius untuk membakar semangat rakyat Palestina. Hamas bertekad tidak hanya mendirikan negara Palestina dan mengusir Israel dari Tepi barat dan Gaza, namun juga mendirikan hukum Islam diseluruh wilayah Palestina. Dalam perjuangannya, Hamas mendapatkan tantangan justru dari kalangan bangsanya sendiri. Pada 15 November 1988, The Palestine National Councilmendeklarasikan di Aljir (ibu kota Al-Jazair) bahwa negara Palestina harus hidup berdampingan dengan Israel. Seketika itu juga, pemimpin PLO (Palestine Liberation Organization) Yasser Arafat, menyetujui usulan tersebut. Baginya, penting bagi Palestina untuk meminimalisir kekerasan dan mengedepankan negosiasi berdasarkan resolusi PBB.



Yasser Arafat berpidato dihadapan Majelis Umum PBB, 13 Desember 1988. (Sumber: AP)

Hamas di sisi lain menolak deklarasi Aljir dan menyebutnya sebagai tindakan pengkhianatan dan kriminal. Bagi Hamas, keseluruhan tanah Palestina adalah wakaf untuk umat Islam hingga hari kebangkitan (Lihat Ahmad 1994: 41). Hamas sejak saat itu terus mengkritik visi PLO untuk mendirikan negara Palestina yang sekuler. Di saat yang sama, sikap Israel melunak pada Hamas hingga pada tahun 1989, Israel mulai menahan para pemimpin Hamas serta menetapkan organisasi tersebut ilegal. Pada tahun 1992, slogan-slogan yang didengungkan di Gaza menyerukan bahwa Hamas adalah satu-satunya representasi dari rakyat Palestina. Hamas mengkritik PLO atas gaya hidup mereka yang sangat royal saat warga Palestina kelaparan di kamp-kamp pengungsi. Lebih dari itu, PLO gagal membebaskan Palestina dari pendudukan Israel. Saat itu, kekuatan Hamas dalam masyarakat Palestina berkisar antara 25%-40%, yang membuat mereka mendapatkan 40% kursi di Dewan Nasional Palestina.



Facebook: Yurgen Alifia

Twitter: @yurgenalifia

Email: yalifia@voanews.com


Memahami Palestina (Bagian 1)

Memahami Palestina (Bagian 1)

“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor. If an elephant has its foot on the tail of a mouse and you say that you are neutral, the mouse will not appreciate your neutrality.” –Archbishop Desmond Tutu

Liputan

Siang itu, saya bersama Mbak Yuni Salim mengunjungi kantor Council on American-Islamic Relations (CAIR) di Washington DC. Kematian Muhammad Abu Khdeir memicu demonstrasi dan kemarahan warga Palestina di sekitar tempat tinggal Muhammad di Desa Shuafat, Yerusalem Timur. Muhammad ditemukan tewas setelah dibakar hidup-hidup. Warga Palestina di Tepi Barat menuding ini sebagai aksi balasan terhadap kematian tiga pemuda Yahudi sebulan sebelumnya. Meski Polisi Israel sudah menangkap enam orang yang diduga terkait pembunuhan Muhammad, demonstrasi tetap tidak terelakkan. Polisi Israel pun menangkap dan memukuli seorang pemuda bernama Tariq Abu Khdeir, yang adalah sepupu dari Muhammad. CAIR mengakomodasi keluarga Tariq untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tariq tinggal di Tampa, Florida dan memiliki kerabat yang tinggal di Maryland.



Konferensi pers keluarga Tariq Abu Khdeir (Sumber: Yurgen Alifia)

Tariq adalah warga negara Amerika keturunan Palestina yang sedang mengunjungi keluarganya di Yerusalem selama libur musim panas. Saat demonstrasi berlangsung di desa Shuafat, Tariq mengaku ada seorang polisi yang tiba-tiba mengejarnya, Tariq pun berusaha lari dan akhirnya tertangkap. Sebuah video penganiyaan terhadap Tariq beredar didunia maya.



Dalam wawancara, Tariq mengaku ada tiga polisi yang menganiaya dirinya, namun setelah dipukul dari belakang, Tariq tidak lagi sadarkan diri. Keluarga Tariq di Amerika menggelar konferensi pers atas apa yang sebenarnya terjadi di Yerusalem. Rentetan kejadian ini disinyalir sebagai benih terjadinya konfrontasi antara Israel-Hamas baru-baru ini.

My Position

Sejak duduk dibangku SMA hingga kini, saya sudah mengambil sikap mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Anda harus kehilangan akal sehat dan hati nurani sekaligus, untuk mendukung pendudukan Israel. Anda harus malas membaca buku sejarah sekaligus tidak mengerti dunia di sekitar Anda untuk berdiam diri dalam hal Palestina. Mengapa? Isu Palestina terlalu telanjang untuk ditutup-tutupi dan dimanipulasi. Penderitaan bangsa ini terlalu menggema untuk diredam-redam atau disalahartikan. Suara mereka terlalu lantang untuk dibungkam atau dibiarkan.

Saya selalu menghindari perdebatan Palestina-Israel dari sudut pandang agama. Praktis karena saya tidak menganggap ini sebagai konflik agama. Saya mengenal banyak kawan dan sahabat yang menyamakan konflik Israel-Palestina sebagai konflik Yahudi melawan Muslim. Hal ini salah dan menyesatkan. Orang sering lupa membedakan antara agama Yahudi dan ideologi Zionisme. Agama Yahudi berusia lebih dari 3000 tahun dan mengajarkan cinta kasih, perdamaian dan saling menghormati sesama umat manusia. Di sisi lain, Zionisme adalah suatu ideology dan gerakan politik yang lahir sekitar 120 tahun yang lalu di Eropa. Selain itu, orang kadang lupa, bahwa tidak sedikit umat Nasrani hidup di tanah Palestina dan mereka pun ikut menderita. Ini bukan soal agama. Ini soal gerakan politik.

Hingga gencatan senjata disetujui Hamas dan Israel pada hari Selasa, 5 Agustus 2014, sekitar 1.865 warga Gaza tewas akibat serangan udara dan darat Israel. Mayoritas di antara mereka adalah warga sipil di mana 400 di antaranya anak-anak. Media mainstream memberitakan Israel membombardir Gaza akibat roket-roket yang diluncurkan Hamas ke wilayahnya. Pola serangan Israel seperti ini sudah sering terbaca. Contoh paling jelas dalam ingatan saya adalah saat Israel menyerang Gaza awal tahun 2009.



Sumber foto: AP

Banyak dari kita memahami konflik ini secara parsial. Saya melihat ada kecenderungan untuk “kagetan”. Ketika ada letusan di Gaza atau di Tepi Barat, banyak teman dan sahabat marah-marah membawa sentimen agama bahkan ras di media sosial. Saat saya ikuti perdebatan di media sosial, saya justru menemukan banyak teman sebenarnya tidak paham akar dari konflik ini. Orang cenderung membawa sentimen agama dan ras untuk membela Palestina atau menyerang Israel, atau sebaliknya.





Sumber foto: AP

Dalam tulisan ini, saya menawarkan sebuah cara pandang yang menitikberatkan pada fakta sejarah. Harapan saya adalah kita sama-sama melihat konflik Israel-Palestina dalam kerangka yang lebih universal. Palestina adalah masalah kemanusiaan, HAM dan keadilan. Saya berharap, dalam beberapa posting blog ke depan, saya bisa menjelaskan bagaimana pengalaman saya melihat pendapat orang Amerika terhadap Israel dan Palestina. Namun, sebelumnya, mari membaca sejarah.

Why Palestine Matters

Dalam buku “The Ethnic Cleansing of Palestine”, Professor Ilan Pappé yang juga sejarawan Israel, menegaskan pendirian negara Israel tahun 1948 menyebabkan exodus 800.000 warga Palestina, penghancuran 531 desa dan pengosongan 11 kota milik rakyat Palestina (Pappé:2006). Menurut data yang dikeluarkan United Nations Relief and Works Agency for Palestinian Refugees (UNRWA), jumlah pengungsi Palestina hari ini mencapai 5 juta orang yang tersebar di Yordania, Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Gaza[1]. Jumlah pengungsi yang dilaporkan UNRWA tersebut adalah mereka yang kehilangan tempat tinggal dan pindah dari Palestina dalam rentan waktu 1 Juni 1946 hingga 15 Mei 1948 akibat pendirian negara Israel.


Pengungsi Palestina di Kamp Nahr-El Bared, Lebanon (Sumber: AP)


Status Quo warga Palestina baik yang tinggal di kamp pengungsi maupun di wilayah Tepi Barat dan Gaza sangat memprihatinkan. Ada beberapa tindakan tidak berperikemanusiaan yang harus diderita oleh rakyat Palestina setiap harinya, di antaranya:

Pertama: Penghinaan dan pelecehan tentara Israel kepada rakyat Palestina di seluruh checkpoint[2] yang tersebar di Tepi Barat dan Gaza. Warga Palestina seringkali harus menunggu selama berjam-jam hanya untuk pergi ke rumah saudaranya yang jaraknya tidak jauh. Jurnalis asal Australia, John Pilger, dalam film dokumenternya berjudul “Palestine is still the issue” mengungkap bahkan seorang wanita Palestina hamil yang hendak melahirkan harus melakukan persalinan di checkpoint karena tidak diizinkan lewat oleh tentara Israel.

Kedua: Pembangunan tembok pemisah antara wilayah Israel dan Palestina telah menyebabkan berbagai kerusakan. Tembok tersebut didirikan di atas tanah Palestina, menghancurkan kebun zaitun milik warga, membiaskan batas wilayah serta membuat pergerakan warga Palestina menjadi sulit karena tembok tersebut membelah pemukiman-pemukiman penduduk Palestina.

Ketiga: Pemukim Yahudi yang secara illegal menduduki Tepi Barat dan Gaza seringkali menyerang warga Palestina secara fisik. Lebih dari itu, mereka juga membakar kebun zaitun milik warga Palestina serta meracuni lingkungan Palestina yang membunuh hewan-hewan ternak. Lingkungan Palestina yang membunuh hewan-hewan ternak.

Keempat: Sampah asal Israel secara rutin dibuang ke wilayah Palestina; dan pada tahun 2005, pembuangan sampah ke wilayah Palestina menjadi bisnis legal di mana 10.000 ton limbah dan sampah dari wilayah Dan & Sharon dibuang ke kota Nablus yang mencemarkan sumber air milik warga Palestina.

Kelima: Penduduk Yahudi ilegal di Tepi Barat dan Gaza hanya berjumlah 10% dari total populasi namun membuang 25% dari seluruh limbah serta mengkonsumsi air lima kali lebih banyak dari warga Palestina. John Pilger dalam film dokumenternya “Palestine is still the issue” juga mengungkap bahwa warga Palestina seringkali sulit mendapatkan air bersih ketika pemukim illegal Yahudi justru bisa menikmati kolam renang di rumah mereka. Hal ini terjadi karena sumber-sumber air dikuasai oleh Israel (Kovel 2007: 118-119).




Sumber foto: AP

Apa yang dialami Palestina ini adalah pembersihan etnis, pengusiran paksa, pembantaian dan terorisme.What is Zionism?

Zionisme merupakan suatu terminologi yang pertama kali dicetuskan oleh seorang Yahudi asal Austria, Nathan Birnbaum, pada tahun 1890 (Bein 1961:33 dalam Prior 1999:2). Zionisme didefinisikan sebagai suatu gerakan nasionalisme Bangsa Yahudi untuk kembali ke tanah perjanjian dan tanah air atas dasar kedaulatan mereka atas “The Land of Israel” atau Eretz Yisrael. Kata “Zion” sendiri diambil dari nama sebuah bukit di kota Yerusalem yang menjadi simbol dari tanah Israel. Dengan kata lain, tujuan dari gerakan ini adalah mengembalikan bangsa Yahudi yang tersebar diseluruh dunia ke tanah yang dijanjikan, yaitu Palestina. Sebagai suatu pemikiran dan gerakan, Zionisme diperkenalkan secara sistematis oleh seorang Yahudi kelahiran Hungaria, Theodor Herzl, yang juga disebut sebagai “Bapak Zionisme” (Isseroff: 2002). Herzl menulis sebuah buku berjudul “Der Judenstaat” atau “The Jewish State” pada tahun 1896 yang berisikan pemikiran-pemikirannya tentang pendirian sebuah Negara Yahudi.



Theodor Herzl (Sumber: AP)


Pemaparan Herzl dalam Der Judenstaat mencakup berbagai dimensi yang menjadi dasar pendirian Negara Yahudi termasuk sistem ekonomi, sistem politik, akuisisi tanah, transmigrasi, emigrasi, konstitusi, bahasa, militer, ekstradisi, dll. Mimpi Herzl untuk mendirikan Negara Yahudi sangat dipengaruhi oleh keprihatinannya atas penderitaan yang dirasakan Bangsa Yahudi selama ribuan tahun. Michael Prior dalam bukunya “Zionism and the State of Israel: A Moral Inquiry” memaparkan bahwa sejarah Zionisme terbagi dalam lima fase, yaitu:

1. The early phase of Zionism (1896-1917)

Theodor Herzl bersikukuh bahwa Bangsa Yahudi adalah satu kesatuan dan percaya atas gagasan “the distinctive nationality of Jews”. Ia juga percaya bahwa di manapun seorang Yahudi hidup, maka ia ditakdirkan untuk hidup teraniaya (Herzl 1896: 76, 79 dalam Prior 1999: 3), oleh karena itu Bangsa Yahudi membutuhkan sebuah tempat tinggal di mana mereka bisa hidup damai dan sejahtera tanpa adanya penganiayaan terhadap mereka. Solusi untuk permasalahan tersebut adalah berdirinya Negara Yahudi (the restoration of the Jewish State) di mana kedaulatan Bangsa Yahudi dijamin dalam skala yang menyamai kedaulatan suatu negara. Pada 29-31 Agustus 1897, Herzl memimpin Kongres Zionis Dunia pertama yang diadakan di Basel, Swiss. Tujuan dari kongres tersebut adalah meletakkan pondasi pertama bagi berdirinya tempat tinggal Bangsa Yahudi. Herzl menggarisbawahi tujuan Zionisme, yaitu untuk memastikan pengakuan terhadap tempat tinggal Bangsa Yahudi di Palestina.

Strategi Herzl selanjutnya pasca kongres adalah melakukan negosiasi dengan para imperialis dan kolonialis Eropa. Herzl sadar negosiasi diplomatik tingkat tinggi serta propaganda dalam skala besar dapat membantu usaha mendirikan Negara Yahudi. Kaum Zionis saat itu percaya bahwa mereka setidaknya harus memenangkan salah satu dukungan dari kekuatan Eropa yang akan mendukung agenda mendirikan Negara Yahudi di Palestina (Prior 1999:10). Pada fase pertama ini, ideologi Zionisme berkembang dari hanya suatu perencanaan yang sistematis menjadi sebuah gerakan konkrit yang didukung penuh oleh komunitas Yahudi yang sangat kuat baik secara intelektual maupun finansial.

2. The second phase of Zionism (1917-1948)

Fase kedua perkembangan Zionisme ditandai dengan keluarnya Deklarasi Balfour. Deklarasi Balfour adalah surat yang ditulis oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour, kepada Lord Rothschild (Walter Rothschild, 2nd Baron of Rotchschild) yang merupakan pemimpin komunitas Yahudi Inggris; untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis Inggris pada tahun 1917. Isi surat tersebut ialah hasil rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917 yang menyetujui pendirian “tanah air” Bangsa Yahudi di Palestina tanpa merugikan hak-hak yang dimiliki komunitas-komunitas di tanah tersebut.



Sumber foto: Wikipedia

Sejak deklarasi tersebut dikeluarkan, pemerintah Inggris mengakomodasi migrasi Bangsa Yahudi ke Palestina. Namun, saat itu migrasi belum dalam angka yang signifikan, yaitu hanya 500 Yahudi Inggris yang pindah ke Palestina selama dekade pertama British Mandate. Uniknya, Inggris dalam periode itu menjanjikan kemerdekaan bagi negara-negara Arab namun juga mendukung pendirian tanah air Bangsa Yahudi serta menjamin hak- hak dasar Bangsa Palestina (Prior 1999: 14).

Ketidakmungkinan untuk mendirikan Negara Yahudi pada periode ini juga disebabkan jumlah Bangsa Yahudi di Palestina pada tahun 1919 tidak lebih dari 9.7% dari total populasi dan hanya menguasai 2.04% tanah Palestina (W.Khalidi 1992:21 dalam Prior 1999:14). Pada tahun 1930, Inggris mengungkap fakta bahwa Israel mengusir warga Palestina dari tanah yang mereka beli; sesuatu yang bertentangan dengan syarat yang diajukan Inggris dalam mendukung Zionisme; yaitu penjaminan hak- hak sipil warga Palestina. Dari tahun 1932-1937, 144,093 Yahudi bermigrasi ke Palestina dan mereka memiliki luas tanah dua kali lipat di Palestina walaupun masih dalam angka yang kecil yaitu 5.7% wilayah pada tahun 1939. Secara keseluruhan, penduduk Yahudi di Palestina meningkat tajam menjadi 450,000 atau 30% dari keseluruhan total populasi antara 1922-1939.

Hal ini menyebabkan pihak Arab mengadakan Arab Higher Committee pada April 1936 yang menyerukan perlawanan terhadap imigrasi Bangsa Yahudi, penghentian penjualan tanah kepada Yahudi dan mendukung kemerdekaan Palestina. Melihat hal ini, Inggris merasa British Mandate sudah tidak berfungsi lagi karena mendukung dua hal yang tidak bisa dipertemukan; yaitu pendirian Negara Yahudi dan kemerdekaan Palestina. Kemudian Inggris mengusulkan partisi wilayah agar bisa memenuhi tuntutan dua kelompok (Yahudi dan Arab) tersebut.

Puncak fase kedua Zionisme terletak pada rencana partisi wilayah yang dilakukan PBB pada tahun 1947. Inggris kala itu “menyerah” untuk menentukan nasib Palestina, hingga pemerintahan Inggris menyatakan (pada 18 Februari 1947) bahwa masalah tersebut akan diserahkan pada PBB. Pada April 1947, Majelis Umum PBB sepakat membentuk United Nations Special Committee for Palestine (UNSCOP) dan mengirim delegasi ke Palestina. UNSCOP merekomendasikan partisi wilayah versi Presiden Truman; memberikan wilayah Negev kepada Negara Yahudi; tanpa mengindahkan fakta 100,000 Arab Badui bercocok tanam di wilayah itu dan hanya 475 Yahudi yang tinggal di sana. Selain itu, rekomendasi partisi wilayah UNSCOP memberikan 57% wilayah Palestina untuk Negara Yahudi, termasuk wilayah yang paling subur, di mana telah menjadi tempat tinggal bagi warga Arab dengan jumlah yang sangat besar. Pihak Arab diberikan 43% wilayah, walaupun faktanya, Bangsa Yahudi hanya memiliki 6.6% dari total keseluruhan wilayah tersebut (Khoury 1985: 18 dan Lehn 1988: 70-80 dalam Prior 1999:22).Ditambah lagi, Bangsa Yahudi hanya berjumlah sepertiga dari total populasi di Palestina (500-600 ribu Yahudi- sedangkan ada 1,4 juta warga Arab Palestina).



UN Partition Plan 1947 (Sumber: Wikipedia)

Pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB, dengan perolehan suara 33 melawan 13 dan 10 suara abstain, mengesahkan rencana partisi UNSCOP dan merekomendasikan berdirinya Negara Palestina dan Negara Yahudi di mana Yerusalem mendapatkan status corpus separatum di bawah pengawasan PBB (1999:22). Pihak Arab menilai rencana tersebut tidak masuk akal, bukan hanya karena mereka telah tinggal selama berabad-abad di tanah tersebut, namun juga karena mereka diminta pergi dari tanah tersebut. Delegasi Arab di PBB menantang organisasi dunia tersebut untuk menguji opini masyarakat Arab yang pastinya enggan menerima partisi wilayah UNSCOP. Namun, resolusi mereka tidak mendapatkan dukungan yang cukup di PBB.



Pertemuan UNSCOP Februari 1948 (Sumber: AP)


Ikuti kelanjutan sejarah mengenai konflik Israel dan Palestina di edisi blog post saya berikutnya.

[1] http://www.unrwa.org/palestine-refugees

[2] Checkpoint merupakan sebuah tempat pemberhentian yang dibangun oleh Israel untuk warga Palestina yang ingin berpindah tempat dari satu jalan ke jalan lainnya, dari satu kota ke kota lainnya dan dari satu pemukiman ke pemukiman lainnya.

Sumber:
Finkelstein, Norman. 2000. The Holocaust Industry. USA: Verso Books
Herzl, Theodor. 1896. The Jewish State. MidEastWeb
Kovel, Joel. 2007.Overcoming Zionism: Creating a Single Democratic State in Israel/Palestine. Toronto: Between The Lines
Pappe, Ilan. 2006. The Ethnic Cleansing of Palestine. Oxford: Oneworld Publications
Prior, Michael.1999. Zionism and The State of Israel, A Moral Inquiry. London:Routledge
Rose, John. 2004. The Myths of Zionism. London: Pluto Press

Facebook : Yurgen Alifia

Twitter : @yurgenalifia

Email : yalifia@voanews.com


Memahami Palestina (Bagian 2)

Senin, 16 Maret 2015

ILMU ITU MILIK ALLAH tercatat dalam ALQURAN DAN DISAMPAIKAN OLEH PARA NABI DAN RASUL UNTUK UMATNYA, JADI SAMPAIKANLAH KEBENARAN ITU WALAUPUN SEPOTONG AYAT.

Rasulullah S.A.W bersabda "Sebarkan Walaupun
Daripada Sepotong Ayatku..

💥🌇Jangan baring ketika adzan, nanti jenazah kita berat."

💥🌇 Jangan berkata-kata diwaktu adzan, agar lidah tidak kelu menyebut syahadat ketika sakaratul maut..

✋💥 5 perkara orang Islam patut tahu berkenaan dengan kesehatan.
Al-Quran ada mengajarkn kita menjaga kesehatan dg membuat amalan seperti berikut :

💦🌠 1. Mandi pagi sebelum subuh atau sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari ☀naik.
Air sejuk yang meresap ke dalam badan bisa mengurangkan lemak yg terkumpul. Kita bisa lihat orang yg mengamal mandi pagi kebanyakan badan nya tidak gemuk.

💦🍸 2. Rasulullah SAW mengamalkan minum segelas air sejuk💧🍸 (bukan air es) setiap pagi.
Mujarabnya, Insya Allah jauh dari penyakit (susah kena penyakit).

🌠😔 3. Waktu sholat Subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit selepas membaca doa)👳.
Ia bisa mengelak dari sakit pening atau migrain.
Ini terbukti oleh para saintis yg membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud.
Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.

🐓🐬 4. Dalam kitab juga ada melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut.
Nabi pernah mencegah kita makan ikan🐟 bersama ayam🐔. Dikhawatirkan akan cepat mendapat penyakit.
Ini terbukti oleh saintis yang menemukan dimana dalam badan ayam mengandungi ion + ve, manakala dalam ikan mengandung ion-ve, jika dalam suapan ayam bercampur dengan ikan maka terjadi tindak balas biokimia yang terhasil yg bisa merusak USUS kita. 


📖✨ 5. Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan kanan dan bila habis hendaklah menjilat jari.

👌 Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa ENZYME banyak terkandung di celah jari, yaitu 10 kali lipat terdapat dalam air liur. (Enzyme sejenis alat percerna makanan, tanpanya makanan tidak terurai).

📖✨ Sabda Nabi SAW, Ilmu itu milik Allah, barangsiapa menyebarkan ilmu demi kebaikkan Insya Allah, Allah akan menggandakan 10 kali lipat kepadanya.

💎✨😃Cara senang utk dapatkan pahala
walaupun sesudah mati,,,:

😇 Pasang kipas di surau/masjid
walaupun 1, setiap kali orang pakai,
anda dpt pahala walau sesudah mati.

🚑 Derma kursi roda di RS, setiap kali pasien gunakan,
anda akan dpt pahala.

👔 Beri baju kpd orang , setiap kali
org pakai , anda dpt pahala.

🍲 Beri makanan kpd org , anda
dpt pahala selagi makanan itu
mnjadi darah daging nya.

📚 Menyampaikan ilmu yg bermanfaat, selagi mereka mengamalkan pahala anda tetap ada.

😎 Berbagi pesan ini kpd orang banyak 👪. Walaupun 1 tolong
bagikan kpd org, anda akn dpt pahala sbb anda telah berdakwah
utk sampaikan ilmu.
InsyaAllah yg penting keikhlasan karena Allah semata 😊...

Mudah2an Bermanfaat....

Kisah Nyata!, Anak Durhaka Mengusir Ayahnya dan Membiarkannya Jadi Pengemis


Sebuah Kisah Nyata dari Negeri tetangga Singapura beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.

Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dunia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.

Kemudian setelah anak tunggalnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di Apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama dengannya. Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunya cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.

Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah-Anak-Menantu yang membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu mewariskankan seluruh harta kekayaannya termasuk apartment yang mereka tinggali, dibalik namakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.

Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartment mereka yang ia warisi dari Ayahnya.

Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, maka mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!

Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu danmenjawab bukan, mungkin Anda salah orang, katanya. Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi orang tersebut. Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal.

Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.

Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior.

PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan “Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian” .

Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejal saat itu anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.

Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee mengeluarkan Kebijakan / Dekrit yaitu “Larangan kepada para orangtua untuk tidak mengwariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.

Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Satu lagi sebagaimana di negeri maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.

Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.

Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri,atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.

Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua merekalah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit.

Tolong sebarkanlah ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih

akhwatindonesia.com